Katekese Lima Menit
Edisi Spesial
Hari Raya Penampakan Tuhan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pada Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, Hari Raya ini dirayakan Gereja untuk merayakan misteri agung ketika Yesus Kristus yang menyatakan diri-Nya kepada segala bangsa. Peristiwa ini dilambangkan secara khusus melalui kedatangan orang-orang majus dari Timur, yang datang untuk menyembah Sang Raja yang baru lahir. Kata Epifani berasal dari bahasa Yunani epiphaneia, yang berarti penampakan atau penyataan.
Penampakan Tuhan menegaskan bahwa Yesus tidak hanya datang untuk bangsa Israel, tetapi untuk seluruh umat manusia. Orang-orang majus, yang berasal dari bangsa lain, melambangkan dunia yang mencari terang dan kebenaran. Mereka mengikuti bintang dan akhirnya menemukan Kristus, Sang Terang sejati. Seperti dalam Kitab suci “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada siapa pun yang dengan tulus mencari-Nya.
Mengapa Gereja Merayakan Epifani?
Gereja merayakan Epifani untuk menegaskan bahwa keselamatan bersifat universal. Kristus adalah terang bagi semua bangsa, tanpa terkecuali. Dalam diri Yesus, Allah menyatakan kasih-Nya yang melampaui batas suku, budaya, dan bangsa. Tradisi Gereja juga melihat tiga peristiwa utama dalam Epifani yaitu : Penyembahan orang-orang majus, Pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, Mukjizat di Kana.
Ketiganya menegaskan bahwa Yesus adalah Putra Allah yang diutus untuk menyelamatkan dunia. Makna Persembahan Orang Majus berupa Emas, kemenyan, dan mur yang dipersembahkan kepada bayi Yesus memiliki makna simbolis: Emas melambangkan Yesus sebagai Raja, Kemenyan melambangkan keilahian-Nya, Mur melambangkan penderitaan dan wafat-Nya sebagai manusia. Dengan persembahan itu, orang-orang majus mengakui Yesus sebagai Raja, Allah, dan Juru Selamat.
Maka Pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini kita diajak untuk menjadi terang bagi sesama, sebagaimana Kristus adalah terang bagi dunia. Seperti orang-orang majus, kita diajak untuk berani meninggalkan kenyamanan, berjalan dalam iman, dan mencari Tuhan dengan hati yang tulus. Nabi Yesaya menegaskan: “Bangsa-bangsa akan datang kepada terangmu” (Yes 60:3). Melalui perayaan ini, Gereja mengundang kita untuk mewartakan Kristus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui kesaksian hidup, kasih, dan pelayanan.
Sumber:
Kitab Suci, Matius 2:1–12; Yesaya 60:1–6
Katekismus Gereja Katolik (KGK) 528, 746
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, no. 16
Paus Benediktus XVI, Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives
www.katolisitas.org
www.imankatolik.or.id