Katekese Lima Menit
Edisi
Sumber Ajaran Iman Gereja
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, perayaan yang menutup seluruh rangkaian Tahun Liturgi. Hari raya ini bukan hanya penanda berakhirnya tahun liturgi, tetapi juga undangan bagi kita untuk merenungkan kembali siapa yang sesungguhnya memimpin dan mengarahkan hidup kita.Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Gereja Katolik mengajarkan bahwa terdapat tiga sumber ajaran iman, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Ketiganya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pada episode ini, kita memusatkan perhatian pada Kitab Suci, yang menjadi salah satu sumber iman paling mendasar dalam kehidupan Gereja.
Kitab Suci bukan sekadar kumpulan tulisan rohani atau kisah sejarah masa lampau. Gereja meyakini bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah yang diwahyukan, ditulis oleh para penulis manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus. Karena itu, dalam Kitab Suci, Allah sungguh berbicara kepada umat-Nya demi keselamatan manusia. Kitab Suci terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama mempersiapkan kedatangan keselamatan, sedangkan Perjanjian Baru menyatakan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi manusia. Seluruh Kitab Suci, dari awal hingga akhir, menunjuk kepada Kristus sebagai pusat iman Kristen.
Saudara-saudari terkasih, dalam Perjanjian Lama, Gereja Katolik menerima 46 kitab, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab Deuterokanonika. Kitab-kitab ini antara lain: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 dan 2 Makabe, serta tambahan dalam Kitab Ester dan Daniel. Kitab-kitab ini disebut deuterokanonika, yang berarti “kanon kedua”, bukan karena kurang penting, melainkan karena pengakuan resminya ditegaskan kemudian dalam sejarah Gereja. Gereja menerima kitab Deuterokanonika karena sejak awal kitab-kitab ini digunakan dalam kehidupan iman umat, dibacakan dalam liturgi, dan diakui dalam Tradisi Gereja. Yesus dan para rasul menggunakan Kitab Suci versi Yunani yang disebut Septuaginta, yang di dalamnya kitab-kitab Deuterokanonika sudah termasuk. Karena itu, bagi Gereja Katolik, kitab-kitab ini sungguh bagian dari Sabda Allah yang diwahyukan.
Penegasan resmi mengenai kanon Kitab Suci, termasuk kitab Deuterokanonika, dinyatakan oleh Gereja dalam berbagai sinode dan secara definitif ditegaskan dalam Konsili Trente (abad ke-16). Gereja menegaskan bahwa seluruh kitab tersebut sama-sama diilhamkan oleh Roh Kudus dan berguna bagi keselamatan umat beriman.
Saudara-saudari yang terkasih, Kitab Suci tidak boleh dibaca terpisah dari iman Gereja. Kitab Suci lahir dari Tradisi Gereja dan ditafsirkan secara autentik oleh Magisterium. Karena itu, Gereja mengajak kita membaca Kitab Suci dengan iman, kerendahan hati, dan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus. Sabda Allah bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi. Ketika kita membaca Kitab Suci, Allah mengundang kita untuk bertobat, memperbarui hidup, dan semakin serupa dengan Kristus. Seperti dikatakan dalam Kitab Mazmur: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Saudara-saudari terkasih, melalui katekese ini, marilah kita semakin mencintai Kitab Suci, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, sebagai kekayaan iman Gereja. Semoga Sabda Allah sungguh membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak kita, sehingga iman kita tidak hanya bertumbuh dalam pengetahuan, tetapi juga berbuah dalam kehidupan nyata.
Referensi:
Kitab Suci:
2 Timotius 3:16–17; Lukas 24:27; Mazmur 119:105
Kitab Deuterokanonika:
Kebijaksanaan 2:23–24; Sirakh 24:1–12; 2 Makabe 7
Katekismus Gereja Katolik (KGK):
KGK 101–104; 105–108; 120
Konsili Vatikan II:
Dei Verbum, no. 2, 9–10, 21
Dokumen Gereja:
Konsili Trente (Dekret tentang Kanon Kitab Suci)
Paus Benediktus XVI, Verbum Domini