Katekese Lima Menit
Edisi
Surga
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, setiap kali kita mendoakan Syahadat, kita mengungkapkan iman akan kehidupan kekal. Kita percaya bahwa setelah kehidupan di dunia ini berakhir, Allah menyediakan kehidupan yang abadi bagi mereka yang setia kepada-Nya. Kehidupan abadi itu kita kenal sebagai surga. Namun, apa sebenarnya surga itu? Apakah surga hanyalah sebuah tempat yang indah dengan awan putih dan para malaikat? Siapa yang dapat masuk ke dalam surga menurut ajaran Gereja Katolik?
Saudara-saudari terkasih, dalam Kitab Suci, kata "surga" dalam bahasa Ibrani adalah šāmayim (שָׁמַיִם) yang berarti langit atau kediaman Allah. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru digunakan kata ouranos (οὐρανός), yang juga berarti langit atau surga. Namun, Gereja mengajarkan bahwa ketika Kitab Suci berbicara tentang surga, yang dimaksud bukanlah langit secara fisik yang dapat kita lihat dengan mata. Surga adalah keadaan hidup yang sempurna dalam persatuan dengan Allah Tritunggal, bersama para malaikat dan semua orang kudus. Dengan kata lain, surga bukan pertama-tama soal tempat, melainkan tentang persekutuan abadi dengan Allah, di mana manusia mengalami kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.
Yesus sendiri sering berbicara tentang surga. Ia berkata kepada para murid-Nya: "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal... Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yoh 14:2 Sabda ini menunjukkan bahwa surga adalah rumah yang telah dipersiapkan Allah bagi anak-anak-Nya. Di sanalah setiap air mata akan dihapuskan, tidak ada lagi kematian, ratap tangis, ataupun penderitaan, sebab semuanya telah berlalu. Kitab Wahyu menggambarkan sukacita itu dengan indah: "Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita." (Why 21:4) Inilah pengharapan terbesar setiap orang Kristiani.
Saudara-saudari terkasih, lalu siapakah yang dapat masuk ke dalam surga? Gereja mengajarkan bahwa surga adalah anugerah Allah, bukan sesuatu yang dapat dibeli atau diperoleh hanya karena usaha manusia. Keselamatan diberikan melalui rahmat Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus.
Namun rahmat itu perlu disambut dengan iman yang hidup dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.Yesus sendiri berkata: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga." (Mat 7:21) Kalimat ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal pengakuan di bibir, tetapi juga ketaatan kepada kehendak Allah.Gereja mengajarkan bahwa mereka yang meninggal dalam persahabatan dengan Allah dan berada dalam keadaan rahmat, meskipun mungkin masih memerlukan penyucian terlebih dahulu, pada akhirnya akan memperoleh kebahagiaan surgawi. Karena itu, Gereja juga mengajarkan adanya Api Penyucian, yaitu proses penyucian bagi mereka yang telah diselamatkan tetapi masih perlu dimurnikan sebelum memasuki kemuliaan surga. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya adil, tetapi juga penuh belas kasih.
Saudara-saudari yang terkasih, apakah surga hanya akan kita alami setelah meninggal?
Dalam arti kepenuhannya, ya. Namun sejak sekarang kita sudah dipanggil untuk mengarahkan hidup menuju surga. Setiap kali kita hidup dalam kasih, menerima sakramen-sakramen, berdoa, mengampuni sesama, dan mengikuti Kristus, kita sedang mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal. Para kudus adalah teladan nyata bahwa surga bukanlah mimpi yang mustahil. Mereka adalah orang-orang biasa yang membiarkan rahmat Allah membentuk hidup mereka hingga akhirnya diperkenankan menikmati kemuliaan surgawi.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa surga adalah tujuan akhir dan pemenuhan terdalam dari kerinduan manusia. Di sanalah kita akan memandang Allah "muka dengan muka", suatu keadaan yang disebut Visi Bahagia (Beatific Vision). Dalam kebahagiaan itu, manusia mengalami kepenuhan kasih, damai, dan sukacita yang tidak akan pernah berakhir. Marilah kita menjadikan surga sebagai tujuan hidup kita. Jangan sampai kita hanya sibuk mengejar keberhasilan, harta, dan kenikmatan dunia yang bersifat sementara, tetapi melupakan kehidupan kekal yang dijanjikan Kristus.Semoga setiap keputusan, perkataan, dan tindakan kita semakin mengarahkan hati kepada Allah, sehingga kelak kita boleh mendengar sabda Tuhan: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia... masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Mat 25:23)
Demikian Katekese Lima menit Terimakasih
Referensi
Kitab Suci
Yohanes 14:1–6
Matius 5:1–12
Matius 7:21
Matius 25:31–46
Lukas 23:42–43
Filipi 3:20–21
1 Korintus 2:9
Wahyu 21:1–4
Wahyu 22:1–5
Katekismus Gereja Katolik
KGK 1023–1029 (Surga)
KGK 1030–1032 (Api Penyucian)
KGK 1042–1050 (Langit dan bumi baru)
KGK 1720–1724 (Kebahagiaan sejati dan tujuan akhir manusia)
Dokumen Gereja
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 48–51 (Gereja yang sedang berziarah menuju kemuliaan surga)
Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes 18–22 (Harapan manusia akan kehidupan kekal)
Spe Salvi oleh P