“Kasihan, Romo Capek….”
(Refleksi Menutup Tahun Pastoral 2025 Keuskupan Bogor)

Judul di atas adalah sebuah celetukan spontan dari seorang lansia di Stasi Santo Josef – Cikotok, Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung saat saya memberikan pelayanan Natal 2025. Terdengar sangat biasa tetapi membuat saya kemudian menuliskan refleksi ini sebagai penutup tahun pastoral 2025 Keuskupan Sufragan Bogor yang sepanjang tahun ini mengambil tema: “Menghidupi Gereja Sinodal Bersama Lanjut Usia dan Orang Muda: Membangun Gereja sebagai Peziarah Pengharapan.”

Stasi Cikotok berjarak 125 KM dari Paroki Rangkasbitung. Sebuah kapel kecil, bukan di tengah kota, bukan di pusat keramaian, melainkan di ujung wilayah Keuskupan Bogor, di tempat yang kini mungkin tak banyak disebut orang. Padahal sebelum tahun 2010, tempat ini begitu terkenal dengan tambang emasnya. Sehingga tidak mengherankan tempat ini juga pernah menjadi tempat tinggal banyak keluarga katolik. Perjalanan ke sana melewati jalan yang berliku, menanjak, dan kadang rusak, dengan cuaca yang sering tak menentu. Di kapel ini terdapat sebuah prasasti peresmian gereja tahun 1969 bertandatangan Mgr. Geise, OFM Uskup pertama Keuskupan Bogor.

 

 


Kini Stasi tersebut telah ditinggalkan banyak umatNya. Di sekitar kapel hanya tersisa 3 keluarga dengan jumlah total 5 orang. Dari kelima orang tersebut 3 orang adalah lansia. Oma Sri Sayekti yang hanya bisa berbaring di kamar ditemani putrinya, Oma Maria Aminah yang tinggal sendirian, dan Oma Pencarwati yang tinggal bersama putranya. Mereka memiliki cerita dan kenangan tersendiri bersama para imam yang pernah melayani mereka; seperti kenangan bersama Romo Gaib Pratolo yang sering membawa tanaman sepulang dari pelayanan di Cikotok. Romo Sirilus Natet yang dikenang selalu membawa oleh-oleh roti untuk mereka, dan sebagainya.

Di kapel kecil itu, hanya ada 2 orang lansia yang setia mengisi setiap minggu melambungkan doa-doa mereka. Rambut mereka memutih, langkah mereka pelan, tubuh mereka mudah lelah. Tetapi setiap menjelang Natal, mereka melakukan sesuatu yang sama dari tahun ke tahun: menata kandang Natal. Bukan kandang dari bahan mahal. Secara lahiriah, semuanya tampak biasa, sederhana. Namun di hadapan Allah, inilah persembahan cinta yang sangat berharga. Saat tangan mereka yang mulai gemetar menyusun patung Bayi Yesus, mungkin hati mereka berbisik pelan: “Datanglah, ya Tuhan Yesus. Tinggallah di antara kami yang kecil ini. Di kampung kami yang jauh ini. Di hati kami yang sudah renta ini.” Mereka tidak mengeluh: “Mengapa kami jauh dari paroki? Mengapa kami jarang dikunjungi? Mengapa semua pergi dari tempat ini?” Mereka tetap setia datang ke kapel meski terkadang hanya 3 orang. Mereka membersihkan kapel dan berdoa dengan suara hampir tak terdengar. Mereka menyalakan lilin di depan salib dan patung Bunda Maria, sambil membawa dalam hati banyak nama: anak, cucu, romo, Gereja. Mungkin bagi dunia mereka tampak kecil dan sepi. Tetapi di hadapan Tuhan, saya percaya, mereka sedang menjaga sesuatu yang sangat penting: api kesetiaan.
Sepanjang Tahun 2025 Gereja Keuskupan Bogor mengundang kita merenungkan satu tema besar: “Menghidupi Gereja Sinodal Bersama Lanjut Usia dan Orang Muda: Membangun Gereja sebagai Peziarah Pengharapan.” Di Cikotok, tema pastoral ini menjelma menjadi kisah nyata, sederhana, anggun mempesona, dan sangat menyentuh.

  1. Gereja sebagai peziarah pengharapan: berjalan bersama yang jauh dan kecil. Santo Paulus menulis: “Pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus…” (Roma 5:5)
    Secara manusiawi, para lansia di Cikotok punya banyak alasan untuk berhenti: umat menipis, keluarga berpindah, tubuh melemah, dan jarak ke pusat paroki sangat jauh. Namun mereka tidak berhenti! Mereka tetap setia datang ke kapel. Mereka tetap menata kandang. Mereka tetap berdoa. Inilah wajah Gereja sebagai peziarah pengharapan: bukan Gereja yang hidup karena jumlahnya besar, melainkan Gereja yang bertahan karena percaya bahwa Tuhan setia, juga di tempat yang jauh dan hampir terlupakan. Dan peziarahan itu tidak dijalani sendirian.
    Sinodalitas mengingatkan kita: Gereja adalah umat Allah yang berjalan bersama. Di Cikotok, “berjalan bersama” itu tampak nyata: Romo menempuh perjalanan sekitar 125 KM dari pusat paroki untuk melayani umat di stasi kecil ini. Ke-2 lansia menanti dengan hati penuh syukur, mempersiapkan segala sesuatu dengan sederhana, tapi sepenuh hati. Mereka tidak saling meninggalkan. Mereka berjalan bersama sebagai saudara, sebagai satu Gereja, sebagai peziarah pengharapan.
     
  2. Kasih yang saling menguatkan: Gereja sinodal dalam bentuk paling sederhana. Ada satu sikap yang sangat menyentuh: cara para lansia ini memandang romo mereka. Secara manusiawi, mereka bisa saja berkata: “Syukurlah, Romo akhirnya datang. Memang sudah seharusnya Romo melayani kami di sini.” Tetapi yang muncul justru adalah keprihatinan dan kasih: “Kasihan ya, Romo capek datang jauh-jauh, hanya untuk kami yang tinggal berlima.” Mereka yang secara wajar pantas diperhatikan, justru lebih dulu memperhatikan. Mereka yang secara manusia paling layak dilayani, justru lebih dulu memikirkan kelelahan sang pelayan. Mereka menyambut romo dengan apa yang ada:sajian senyum yang tulus dan hati yang penuh syukur. Dan setelah romo pulang, ketika mobilnya menghilang di tikungan jauh, mereka tidak berhenti. Saya percaya, mereka melipat tangan dan berdoa: “Tuhan, jagalah romo kami. Perjalanannya masih jauh. Kuatkan dia, lindungi dia, dan berkatilah pelayanannya.” Di sini, Gereja sinodal tampak sangat jelas: bukan sekadar rapat dan dokumen, melainkan kasih yang saling menguatkan. Seperti dikatakan Paulus: “Saling tolongmenolonglah kamu menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Di Cikotok: Romo berjalan jauh untuk menanggung beban rohani para lansia yang rindu akan Ekaristi. Para lansia itu, dengan doa, perhatian, dan cinta mereka yang sederhana,setia menanggung beban romo dan mendukung Gereja. Inilah Gereja sinodal dalam bentuk paling murni: saling mendengarkan, saling memperhatikan, saling menopang, dan saling berjalan bersama.
     
  3. Lanjut Usia: Jantung Gereja Peziarah, bukan Pinggiran.
    Paus Fransiskus mengingatkan, orang lanjut usia bukan beban, melainkan harta Gereja dan “memori umat Allah”: Mereka mengingatkan kita bagaimana iman ini bertumbuh. Mereka menjaga tradisi doa di rumah-rumah dan kapel kecil. Mereka menghubungkan generasi demi generasi dalam kesetiaan kepada Kristus. Paus Yohanes Paulus II menyebut masa tua sebagai “waktu rahmat”: waktu untuk memperdalam hubungan dengan Allah dan menjadi saksi pengharapan bagi yang lebih muda. Artinya, ketika kita berbicara tentang: “Menghidupi Gereja Sinodal Bersama Lanjut Usia: Membangun Gereja sebagai Peziarah Pengharapan”, kita mengakui bahwa: Para lansia bukan hanya penerima pelayanan, tetapi subjek aktif dalam peziarahan Gereja: mereka berdoa, bersaksi, menanggung bersama salib kehidupan dan Gereja. Mereka bukan di pinggir, melainkan di jantung perjalanan Gereja. Tanpa doa-doa yang diucapkan pelan di kapel kecil seperti Cikotok, tanpa air mata dan kesetiaan para lansia, peziarahan Gereja menuju Kerajaan Allah menjadi jauh lebih rapuh.
     
  4. Panggilan bagi Kita: lebih peka, lebih dekat, lebih berjalan bersama. Kisah kecil di stasi yang berjarak ± 125 KM dari pusat paroki ini menjadi cermin bagi kita semua:
    • Apakah kita membangun Gereja yang sungguh berjalan bersama, atau hanya sibuk dengan yang ramai dan dekat?
    • Apakah kita hanya memperhatikan yang muda, kuat, dan produktif, lalu pelanpelan mengabaikan yang tua, jauh, dan rapuh?

Gereja Sinodal mengundang kita untuk:

  1. Belajar berjalan bersama mereka yang jauh dan tersembunyi. Bukan hanya melayani “pusat”, tetapi juga menjangkau “pinggiran”: stasi kecil, umat yang sedikit, lansia yang sendirian.
  2. Belajar mendengarkan suara lanjut usia. Kisah mereka menjaga iman di tempat terpencil adalah kekayaan rohani bagi seluruh Gereja. Mereka adalah “kitab hidup” tentang kesetiaan Allah.
  3. Belajar berharap seperti mereka. Di tengah sepi, mereka tetap percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan. Di tengah jarak yang jauh, mereka yakin bahwa Gereja tidak melupakan. Di sini kita melihat makna terdalam: ‘’Gereja sebagai peziarah pengharapan’’.

Kandang Natal dan Kapel sederhana. Mari kita bayangkan kandang kecil di kapel Cikotok itu: Tidak ada paduan suara besar. Tidak ada dekorasi meriah. Tidak ada sorotan kamera. Namun di sanalah, Natal sungguh-sungguh terjadi. Ketika menempuh perjalanan panjang untuk merayakan Natal dengan para lansia di Cikotok, saya merasakan sesungguhnya sedang datang kepada Kristus sendiri. Ketika para lansia itu melipat tangan dan mendoakan romonya, parokinya, dan keuskupannya, mereka sebenarnya sedang menopang hati Gereja dengan kasih yang tersembunyi. Dari “Betlehem kecil” bernama Cikotok, Tuhan menyampaikan pesan lembut bagi kita semua: Jangan biarkan para lansia berjalan sendirian. Jangan lupakan stasi-stasi yang jauh dan kecil. Bangunlah Gereja yang sungguh berjalan bersama: yang kuat bersama yang lemah, yang muda bersama yang lanjut usia, yang di pusat bersama yang di pinggiran. Karena hanya dengan cara itulah kita sungguh menghidupi Gereja sinodal dan membangun Gereja sebagai peziarah pengharapan: Gereja yang percaya bahwa, di tengah jarak yang jauh, dalam jumlah yang sedikit, dan dalam tubuh yang rapuh, Allah tetap tinggal, menyertai, dan mengasihi.


Rangkasbitung, Pada Perayaan Pesta Keluarga Kudus Nazareth
RD. Yustinus Joned Saputra